TIM I DPRD KOTA SOLOK KUNKER KE KAB, GARUT DAN KAB,
SUMEDANG PROV, JAWA BARAT
Seperti diketahui, Kabupaten
Garut dan Sumedang termasuk salah satu daerah potensial, tak hayal daerah ini
cenderung dijadikan referensi dalam melahirkan berbagai program pembangunan
oleh daerah lain. Termasuk oleh Kota Solok, Kabupaten Garut dan Sumedang juga
dianggap selangkah lebih maju, hingga dua daerah bertetangga tersebut ditetapkan
menjadi daerah kunjungan kerja (kunker) DPRD Kota Solok dipenghujung Maret lalu.
Secara teritorial Kabupaten
Garut memang jauh lebih luas dibanding Kota Solok yakni sekitar 3.065 kilometer
persegi, berpenduduk 2,5 juta jiwa, terbagi atas 42 kecamatan, 424 desa, 21
kelurahan, dengan pusat ibukota kabupaten berpusat di Tarogong Kidul. Sebelah
utara berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan Sumedang, bagian selatan Samudera
Hindia, barat Kabupaten Bandung dan Cianjur, serta bagian timur dengan Kabupaten
Tasik Malaya.
Sementara Kota Solok hanya
mengantongi dua kecamatan (Tanjung Harapan dan lubuk sikarah), 13 Kelurahan, luas
57,64 kilometer persegi, berpenduduk 64 ribu jiwa. Sumber ekonomi global lebih dominan
bergantung pada sektor perdagangan, jasa, industri kreatif, ditunjang pertanian
padi.
Secara geografis daerah yang dikenal
sebagai penghasil kuliner khas nusantara ’dodol’ ini berdekatan dengan Kota
Bandung sebagai ibukota Provinsi Jawa Barat, hingga menjadikan Garut begitu
berperan sebagai daerah penyangga, hinterland bagi pengembangan wilayah Bandung
Raya. Karena itu, tidak mengherankan bila Kabupaten Garut sangat diandalkan
dalam memasok berbagai produk kebutuhan bagi daerah Bandung dan sekitarnya. Sekaligus
menjadi pengendali keseimbangan sosial ekonomi se-seantro Jawa Barat.
Atas dasar itu, Kabupaten
Garut pun ditetapkan sebagai daerah tujuan dalam kegiatan studi
banding/kunjungan kerja (Kunker) oleh rombongan Tim I Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) Kota Solok, dan dalam perjalanan selama empat hari, Senin – Kamis
(29/3 - 2/4) berupaya mencari referensi untuk maksimalisasi proses pembangunan
Kota Solok. Terutama menyangkut pembangunan sektor Usaha Mikro Kecil Menengah
(UMKM), penetapan anggaran berbasis gender (perempuan).
Dalam kunjungan ke Pemkab
Garut, Senin (30/3) rombongan wakil rakyat penghasil ‘beras ternama’ yang
beranggotakan 14 orang (6 Anggota DPRD, 8 pendamping) disambut Asisten I Bidang
Pemerintahan Kabupaten Garut, Dj.Darajat didampingi sejumlah SKPD terkait. Jalannya
acara pertemuan cukup berlangsung alot, sekaligus dibungkus dengan ajang
diskusi.
Dj Derajat mengungkapkan,
Kabupaten Garut seyogyanya bukanlah daerah kaya dengan sumberdaya alam yang
melimpah, namun merupakan daerah biasa-biasa saja layaknya daerah lain di
Sumatera Barat. Cuma saja dalam menggenjot sektor ekonomi, pendapatan perkapita
daerah, Kabupaten Garut justru semenjak sepuluh tahun terakhir juga kosentrasi
melirik sektor usaha kecil menengah sebagai basis utama, selain sektor
pertanian dan perkebunan. Terobosan ini terus diberdayakan secara terprogram
searah dengan target RPJMD, RPJP daerah. Kendatipun berganti pimpinan daerah,
namun program ini tetap dilanjutkan.
“Sektor UMKM telah menjadi
bahagian terpenting dalam upaya pembangunan ekonomi Garut, hingga pemberdayan
sektor ini terus mendapat perhatian serius dari Pemkab Garut. Pergerakan usaha kecil menengah dipantau secara
terprogram melalui SKPD terkait, seraya dibina dan diberdayakan untuk dapat
berkembang,” Jelas Dj Derajat.
Perhatian Pemkab Garut pada UMKM
ditandai dengan pengalokasian dana mencapai Rp.2 millar bersumber APBD, yang
diimplementasikan lewat pelatihan usaha ke masyarakat, pemberian bantuan peralatan,
pembinaan berkelanjutan, plus diikuti suntikan modal sesuai kebutuhan. Setelah
usaha binaan berkembang, satu-persatu diantaranya diarahkan menjadi bapak
angkat bagi yang masih lemah, dengan begitu satu sama lain saling terkoneksi.
Alhasil, berbagai bentuk usaha kreatif terus bermunculan hingga ke pelosok
daerah.
Menariknya lagi, selain untuk
kalangan umum, Pemkab Garut juga menjadikan kalangan perempuan lebih produktif,
apakah dari kalangan janda, serta sebagainya. Jenis usaha yang digeluti tergantung
peluang, mulai bidang kuliner, kerajinan, agribisnis, jasa, serta bidang
pertanian. Dengan begitu, kaum ibu-ibu rumah tangga turut andil menopang, sekaligus
jadi tulang punggung bagi suaminya.
“Kita tidak boleh membiarkan
keluarga miskin terus terbentur, termasuk kaum perempuan rawan ekonomi. Jika
dibiarkan, laju pertumbuhan daerah global akan tersendat, persoalan-persoalan
sosial mewarnai kehidupan masyarakat. Maka, perlu dikontrol, dikendalikan,” Kata Dj Derajat.
Menyikapi paparan Asisten I
Pemkab Garut, berikut paparan Ketua Tim I DPRD Kota Solok, Daswip Petra Dt.Mjj
Alam, ajang pertemuan pun dibungkus dengan rangkaian diskusi, berbagi
informasi, transformasi ilmu dan pengalaman. Kebetulan dalam pertemuan tersebut
juga ikut hadir pejabat Disperindag Kota Solok, pejabat Kantor KBPM, dan Kantor
Penanaman Modal.
Selepas dari Pemkab Garut,
rombongan juga bersilaturrahmi ke Pemkab Sumedang, Selasa (31/4), yang kala itu
disambut Asisten I, Retno E. Dalam pertemuan tersebut pun mengemuka isu yang hampir
sama, yakni menyangkut kepedulian Pemkab Sumedang akan sektor UKM dan kelompok
perempuan.
Untuk lebih terkoordinir dan maksimalnya
pembangunan sektor UKM, Pemkab Sumedang semenjak lima tahun terakhir mewajibkan
seluruh usaha kecil menengah memiliki izin, dan dengan begitu kelangsungan
hidup usaha masyarakat dapat lebih terkoordinir, termonitor. Sekalipun itu
penjual tahu pinggir jalan, tetap harus mengurus izin.
“Dalam pengurusan izin usaha
di Sumedang, sangat mudah, dan digratiskan,” Pungkas Retno.
Melalui kunker DPRD dengan
anggaran yang begitu terbatas di awal triwulan 2015 ke Garut dan Sumedang,
begitu banyak hikmah yang bisa dipetik para wakil rakyat Kota Solok, tinggal
lagi pelaksanaannya. Semoga saja kunker DPRD mampu menjadi pelopor menuju
pembaharuan.